Kamis, 11 Desember 2014

Hilangnya Rasa Empati Pemimpin Bangsa Ini

Bukan rahasia umum lagi kondisi Bangsa Indonesia saat ini sungguh hancur dan menjadi ironi untuk kita semua sebagai rakyatnya, dimana berbagai hal kelakuan pemimpin bangsa ini yang sudah tidak mempunyai rasa empati lagi untuk dapat peduli kepada rakyatnya. Mereka para pemimpin bangsa yang ada hanya memikirkan kepentingan dirinya sendiri dengan memperkaya dirinya sendiri dengan ber korupsi dan memanipulasi semua hal yang berbau uang dan kekuasaan.

Uang dan kekuasaan seolah menjadi tujuan hidup para pemimpin Indonesia yang suka ber glamour dan hidup mewah dari hasil jerih payah kotor yang di lakukannya dengan memanfaatkan semua kepentingan yang bukan miliknya. Semua kepentingan itu di rampas dari rakyat yang tak berdaya melawan arus kekuasaan yang ada, sungguh rasa empati para pemimpin bangsa ini sudah benar-benar hilang . Mereka tidak pernah memikirkan hak-hak orang lain yang jauh lebih memerlukan dan membutuhkan , semuanya dirampas begitu saja tanpa memperdulikan dari mana uang dan kekuasaan itu bersumber. Pemimpin bangsa ini sudah lupa bahwa mereka dipilih oleh rakyat dan di bayar oleh rakyat pula, lantas apa yang membuat para pemimpin ini lupa daratan dengan semua janji dan omongan manis dulu kala.


Satu kata saja mereka semua sudah kehilangan rasa “EMPATI”, yaitu rasa peduli akan orang lain, lingkungan dan dirinya sendiri. Empati pada para pemimpin ini sudah tergerus dengan kilaunya uang dan kekuasaan yang di emban nya sekarang, menduduki posisi yang tinggi menjadikan mereka merasa bisa melakukan apa pun tanpa ada yang bisa menghentikannya. Kasihan sekali untuk rakyat Indonesia massa kini hampir semua pemimpin nya hilang rasa empati kepada rakyanya, bisa kita lihat fakta di lapangan dengan banyaknya koruptor bergelimangan di semua daerah Indonesia ini. Hanya sedikit saja potret pemimpin Indonesia yang masih dapat anda tiru kelakuannya, tapi dahsyatnya jumlah itu tak seberapa dengan jumlah para koruptor yang ada. Tak tanggung tanggung dari semua lini kehidupan yang ada bisa disusupi virus korupsi ini mulai dari sang pengadil yaitu hakim sampai para penegak hukum dan pegawai negeri terjangkit penyakit hilangnya rasa empati ini. Lengkap sudah derita rakyat ini untuk lepas dan merasakan kehidupan yang sejahtera untuk masa depan anak-anaknya kelak.

Rasa empati disini sungguh dibutuhkan kembali oleh para pemimpin Indonesia saat ini agar mereka bisa bertaubat atas apa yang dilalukannya selama ini, mulai teringat kembali dengan janji penuh semangatnya pada saat berorasi dan berkampanye kepada para pendukungnya. Saat ini rakyat butuh pemimpin yang bisa mengayomi dengan kesejahteraan dan kebahagiaan yang di mimpi-mimpikan dari dahulu bukan malah sebaliknya dengan menindas secara tidak langsung dengan menggerogoti kebahagiaan yang ada melalui jalan kotor “KORUPSI” dan mengambil kekuasaan tanpa memperdulikan siapa dia dan apa kemampuan dia selama ini.

Orang ber korupsi bisa saja hilang dari Indonesia saat ini, tetapi bukan itu yang  semua kita cari tetapi kebiasaan korupsi itulah yang harus di obati sampai akar-akarnya, dimana korupsi itu bisa di obati dengan satu jalan yaitu selalu mengasah rasa empati kita kepada orang lain dengan peduli dan menghargai hak-hak orang lain sehingga kita jadi malu untuk melakukan hal kotor yang mampu mencederai rasa empati yang kita miliki. Rasa empati bisa saja hilang begitu saja dalam diri kita sendiri tanpa terasa oleh kita sekalian, logikanya seperti ini “bagaimana kita bisa mempunyai rasa empati kepada orang lain kalau kita sendiri tidak bisa ber empati untuk diri kita sendiri dan lingkungan sekitar kita semua”. 

Jangan sampai rasa empati itu hilang dengan ke egoisan kita menjadi makhluk sosial di lingkungan kita sendiri, potret ini kita alami di jaman modern ini dimana kita enggan untuk menjadi makhluk sosial dan malu untuk berbeuat baik kepada orang lain di sekitar kita. Makhluk sosial yang dulu tidak sama dengan makhluk sosila masa kini, bedanya hanya pada komunitas dia bernaung saja. Dulu orang bisa ber sosial ria dengan komuintas lain yang tidak dikenalnya, tetapi sekarang kita semua malu untuk bersosial semacam itu. Karena kita merasa komunitas lain selain komunitas yang dimilikinya adalah hal tidak penting dan merasa tidak kenal.

Itu lah potret makhluk sosial Indonesia masa kini yang tidak mau lagi ber empati kepada selain komunitasnya , ini semua terbukti dengan fakta yang ada di Indonesia saat ini. Kita contohkan dengan komunitas anggota DPR RI yang suka berkorupsi disana dan disini tetapi mereka tidak pernah memikirkan komunitas rakyat yang memilihnya. Mereka hanya ber empati kepada rekan kerjanya sendiri jikalau tidak mendapat uang bagi hasil korupsi yang di lakukannya. Lantas mau dibawa kemana kesejahteraan rakyat Indonesia saat ini kalau saja semuanya diambil begitu saja tanpa menghiraukan rakyatnya yang lagi.

Saat ini, besok, lusa bahkan sampai kiamat pun negara ini tidak akan pernah maju kalau pemimpin nya tidak bisa mengayomi rakyatnya dan tidak bisa merasakan rasa empati rakyatnya saat ini. Bangsa ini bisa maju jikalau pemimpinnya bisa ber empati lebih untuk rakyatnya di banding lebih mementingkan ber empati untuk dirinya sendiri dengan uang dan kekuasaan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar